Berita Nasional Dalam NegeriBerita TerkiniBreaking NewsInfo Daerah

Yuk Mengenal Lebih Banyak Seputar Gunung Krakatau Yang Sempat Meletus Kemarin Malam

Jakarta – Yukemari.com

Terjadinya dua kali erupsi di Gunung Anak Krakatau pada Jumat malam lalu (10 April 2020) yang dampak getarannya dirasakan oleh sebagian masyarakat yang berlokasi tidak jauh dengan Gunung Krakatau membuat rasa penasaran untuk menggali informasi Gunung Anak Krakatau beserta catatan historinya. Gunung Anak Krakatau yang berada di Selat Sunda tepatnya diantara Pulau Jawa dan Pulau Sumatera merupakan salah satu Gunung berapi yang statusnya hingga saat ini masih aktif.

Dikutip dari majalah Geo Magz, majalah terbitan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) bahwa Gunung Anak Krakatau diketahui tercipta dan muncul ke permukaan laut pada 15 Januari 1929 akibat erupsi besar Induknya terdahulu yaitu Gunung Krakatau yang terjadi pada tahun 1883 yang mengakibatkan gelombang tsunami dengan ketinggian gelombang kurang lebih 40 meter.

Asal Mula Gunung Anak Krakatau.

Informasi yang diperoleh Yukemaricom dari situs Wikipedia bahwa Krakatau atau Rakata ialah kepulauan vulkanik yang masih aktif serta berada di Selat Sunda, antara Pulau Jawa dan Sumatera. Nama ini juga disematkan pada satu puncak gunung berapi di sana (di Gunung Krakatau) yang sirna akibat letusan kataklismik pada tanggal 26 – 27 Agustus 1883. Di tahun 2019, kawasan yang sekarang merupakan cagar alam ini memiliki empat pulau kecil: Pulau Rakata, Pulau Anak Krakatau, Pulau Sertung, dan Pulau Panjang (Rakata Kecil). Berdasarkan kajian geologi, semua pulau ini berasal dari sistem gunung berapi tunggal Krakatau yang pernah ada di masa lalu.

Lokasi Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda
Lokasi Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda

Krakatau sangat dikenal oleh masyarakat Internasional karena letusan yang sangat dahsyat di tahun 1883. Awan panas serta gelombang tsunami yang diakibatkannya telah menewaskan sekitar 36.000 jiwa. Sampai sebelum tanggal 26 Desember 2004, tsunami ini adalah yang terdahsyat di kawasan Samudera Hindia. Suara letusan itu terdengar hingga di Alice Springs, Australia dan Pulau Rodrigues dekat Afrika, 4.653 kilometer. Daya ledak dari letusan ketika itu diperkirakan mencapai 30.000 kali bom atom yang dijatuhkan oleh Amerika Serikat di Hiroshima dan Nagasaki di akhir Perang Dunia ke-2.

Dampak Erupsi Besar Dari Induk Gunung Anak Krakatau.

Letusan Induk Gunung Anak Krakatau (kala itu masih Gunung Krakatau) menyebabkan perubahan iklim global. Dunia sempat gelap selama dua setengah hari akibat debu vulkanis yang menutupi atmosfer. Matahari bersinar redup sampai setahun berikutnya. Hamburan debu tampak di langit Norwegia hingga New York.

Letusannya ketika itu masih kalah dibandingkan dengan letusan Gunung Toba dan Gunung Tambora di Indonesia, Gunung Katmai di Alaska dan Gunung berapi Taupo di Selandia Baru. Namun gunung-gunung tersebut meletus jauh pada masa ketika populasi manusia masih sangat sedikit. Sementara disaat Gunung Krakatau meletus, populasi manusia sudah cukup padat, ilmu sains dan teknologi mulai berkembang, alat telegraf telah ditemukan dan kabel bawah laut sudah dipasang. Dengan demikian bisa dikatakan bahwa ketika itu teknologi informasi sedang tumbuh dan berkembang pesat.

Tercatat bahwa letusan Gunung Krakatau adalah bencana besar pertama di dunia setelah penemuan telegraf bawah laut. Kemajuan tersebut, sayangnya belum diimbangi dengan kemajuan di bidang geologi. Para ahli geologi saat itu bahkan belum mampu memberikan penjelasan mengenai letusan tersebut. Gunung Krakatau yang meletus, getarannya terasa hingga benua Eropa.

Melihat kawasan Gunung Krakatau di Selat Sunda, para ahli memperkirakan bahwa pada masa purba terdapat gunung yang sangat besar di Selat Sunda yang akhirnya meletus dahsyat yang menyisakan sebuah kaldera (kawah besar) yang disebut Gunung Krakatau Purba, yang merupakan induk dari Gunung Krakatau yang meletus pada 1883. Gunung ini disusun dari bebatuan andesitik. Letusan Krakatau Purba, diperkirakan terjadi saat masa-masa kerajaan di Indonesia pada tahun 416 Masehi, sesuai yang ditafsirkan dari kitab pedalangan Pustaka Raja Purwa.

Semoga informasi dari kami bermanfaat buat sahabat Yukemaricom dimanapun berada, jangan lupa simak terus lanjutan informasinya ya.

Bila Anda ingin ikut memantau perkembangan virus corona (COVID-19) secara realtime, Anda dapat mengaksesnya di halaman web resmi di bawah ini:

Jangan lupa follow sekarang juga ya akun sosial media Yukemaricom.

(Sumber referensi: wikipedia.org/wiki/Krakatau)

Yuk Mengenal Lebih Banyak Seputar Gunung Krakatau Yang Sempat Meletus Kemarin Malam

Yuk Mengenal Lebih Banyak Seputar Gunung Krakatau Yang Sempat Meletus Kemarin Malam

User Rating: 5 ( 1 votes)

Show More

Related Articles

Leave a Reply

Back to top button
Close

Adblock Detected

Silakan matikan adblocker yang terpasang pada perangkat Anda agar dapat menikmati sensasi menarik dari Yukemari.com